Mi instan merupakan salah satu makanan utama di Indonesia dan penelitian terbaru Mintel menunjukkan bahwa kategori mi instan telah jauh melesat dalam sepuluh tahun terakhir. Mintel juga memperkirakan pertumbuhan yang tetap kuat dalam industry mi instan industri mi instan akan tetap berlanjut dalam lima tahun ke depan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mintel, dapat disimpulkan bahwa Indonesia adalah satu dari lima pasar terbesar mi instan di dunia dari segi penjualan ritel volume.

Dengan meningkatnya penghasilan dan urbanisasi di Asia, premiumisasi dari mi instan akan terus berkembang untuk menjawab kebutuhan konsumen akan mi instan yang berkualitas baik, praktis dan juga memiliki rasa yang lezat. Di Indonesia sendiri pada khususnya, mi instan senantiasa mengalami proses premiumisasi yang berkelanjutan.

Dalam usahanya untuk meningkatkan pertumbuhan, para produsen mi instan di Indonesia menawarkan kualitas yang jauh lebih baik dengan bahan-bahan ‘asli’ seperti daging asli. Dengan adanya daging asli sebagai bahan, produk-produk mi instan tersebut menawarkan cemilan yang lebih padat dan bernilai tinggi walaupun harga yang harus dibayar tidak dapat dikatakan murah. Berdasarkan penelitian Mintel, 39% konsumen cemilan yang hidup di kota-kota besar mengatakan bahwa ada kalanya mereka lebih memilih cemilan daripada makanan utama – sebuah alasan yang tepat sekali untuk menciptakan cemilan yang tidak hanya bergizi, tetapi juga mengenyangkan.

DAGING MENDORONG INOVASI MI INSTAN MENIADI MAKANAN UTAMA

Industri mi instan di Indonesia berkembang pesat tahun lalu saat Grup Mayora meluncurkan produk bernama Bakmi Mewah, mi instan mewah dengan ‘daging asli’. Dengan sasaran utama para konsumen muda dari kelas menengah ke atas, Bakmi Mewah diluncurkan dengan program promosi besar-besaran menggunakan dukungan selebritas serta liputan luas dari awak media. Sebagai dampaknya, pasar dipenuhi dengan pemain-pemain baru dalam industri mi instan dengan ‘daging asli’.

3926871-1_dcddb75469b4190263-0_dcddb75469b  3993273-0_dcddb75469b

Meskipun mi instan sangat digemari sebagai makanan yang mudah disajikan di berbagai tempat di Asia, mi instan tidak pernah dipandang sebagai makanan bergizi. Salah satu faktor pendukung pandangan demikian adalah bahan-bahan mi instan yang serba diproses. Konsep bahan makanan asli dengan demikian merupakan cara yang sangat efektif mematahkan pandangan tersebut. Para pendatang baru kemudian berlomba-lomba masuk dalam industri ini.

Permintaan akan protein sangat tinggi di negara-negara seperti Amerika Serikat; akan tetapi hal sedemikian tidak ditemukan di Asia Tenggara. Oleh karena itu, hal ini dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen yang sadar akan arti kesehatan, sebagaimana protein di Indonesia juga identik dengan rasa kenyang.

Penelitian Mintel menunjukkan bahwa hampir setengah dari seluruh konsumen cemilan yang hidup di kota-kota besar di Indonesia setuju bahwa cemilan dengan kandungan protein yang tinggi lebih mengenyangkan. Terlebih lagi, dua dari lima konsumen cemilan cenderung mencari cemilan dengan kandungan protein yang tinggi. Dengan demikian, produsen mi instan yang ingin menjawab permintaan konsumen sebaiknya berusaha melahirkan produk mi instan dengan kandungan protein yang lebih tinggi. Kandungan protein yang lebih tinggi pada mi instan juga dapat menjadi nilai lebih yang membedakan suatu produk dari produk lain dalam industri ini.

© 2020 Mintel Group Ltd. | Kebijakan Privasi | Penggunaan Cookie