Sampah plastik akhir-akhir ini banyak menyita perhatian sehingga berbagai perusahaan di seluruh dunia bersatu untuk mengatasi masalah ini. Di sini, analis ahli Mintel berbagi gagasan mereka tentang masalah sampah plastik di Korea Selatan, India, dan Thailand untuk menilai implikasinya untuk perusahaan dan produsen.

Delon Wang, Manajer Tren, Asia Pasifik

Thought BubbleDelon-SouthKorea

Berdasarkan data dari Korea Zero Waste Movement Network, Korea Selatan menggunakan 19 miliar kantong plastik berbagai jenis per tahunnya, dimana angka tersebut dua kali lipat rata-rata pemakaian di Eropa. Untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, bangunan pemerintahan dan stasiun kereta bawah tanah di Seoul baru-baru ini berhenti menyediakan kantong plastik sekali pakai untuk payung yang basah. Berdasarkan data statistik yang dipublikasikan oleh pemerintah Seoul, di tahun 2017 bangunan pemerintahan di Seoul menggunakan lebih dari 300.000 kantong plastik payung sekali pakai.

Produsen-produsen di seluruh dunia sedang meningkatkan upaya untuk mengatasi masalah sampah plastik sebagai cara untuk menunjukkan perhatian dan komitmen mereka terhadap kelestarian lingkungan.

Hal yang sama terjadi di Korea Selatan; awal tahun ini, lima ritel dan gerai toko diskon besar – E-Mart, Lotte Market, Homeplus, Hanaro Mart, dan Mega Mart – berjanji untuk mengurangi jumlah kantong plastik yang mereka gunakan. Sekitar 350 gerai dari lima toko besar tersebut berkomitmen untuk menciptakan budaya berbelanja ramah lingkungan dengan melakukan inisiatif seperti menggalakkan penggunaan tas belanja yang dapat dipakai kembali dan membebankan biaya untuk pemakaian kantong plastik. E-mart, misalnya, mengatakan bahwa hal tersebut akan mengurangi penggunaan kantong plastik di 145 tokonya hingga 50%.

Masyarakat Asia Pasifik menyadari bahwa penggunaan kantong plastik yang mereka lakukan memiliki dampak langsung terhadap lingkungan. Dengan semakin maraknya dukungan terhadap produk berkelanjutan dan ramah lingkungan, produsen dan perusahaan akan mampu menerapkan ide inovasi untuk mengurangi sampah dan menjamin keberlanjutan dengan baik.

Ranjana Sundaresan, Analis Riset Senior, India

Thought-BubbleRanjana-India-1

Penggunaan kemasan plastik bisa menekan biaya produksi sehingga perusahaan bisa menjual produk dengan harga lebih murah kepada konsumen, tetapi dampaknya terhadap lingkungan akan semakin membuat penggunaan kemasan plastik tidak bisa ditolerir. Penyebab permasalahan ini bukan hanya tas belanja plastik tetapi juga kemasan produk.

Ketertarikan terhadap alternatif yang berkelanjutan untuk menggantikan plastik semakin besar karena masyarakat sudah semakin sadar akan perilaku mereka dalam menggunakan plastik. Riset Mintel menemukan fakta bahwa hampir dua dari tiga penduduk kota di India membawa tas belanja sendiri ketika pergi berbelanja. Perubahan perilaku masyarakat ini membuat perusahaan-perusahaan di seluruh dunia mencari cara untuk mengurangi penggunaan plastik dengan memilih material alternatif yang berkelanjutan.

PepsiCo baru-baru ini mengumumkan rencana mereka untuk memperkenalkan kemasan berbahan dasar tanaman pertama yang 100% bisa diuraikan untuk merek makanan ringan Lay’s dan Kurkure. Solusi kemasan ini dikembangkan oleh PepsiCo, dan India menjadi salah satu negara percobaan pertama untuk alternatif berkelanjutan yang baru ini.

Produsen dapat memberi dampak positif dan signifikan terhadap lingkungan dengan tidak menggunakan plastik di seluruh lini bisnis mereka. Meskipun demikian, mereka juga harus berinvestasi dalam mengkampanyekan manfaat perubahan ini untuk mendorong agar pelanggan mau mendukung gerakan tersebut. Ide sederhana seperti menukar kemasan bebas plastik yang sudah kosong dengan produk diskon atau penambahan poin loyalitas karena telah menggunakan bahan ramah lingkungan, akan sangat efektif untuk memenangkan hati masyarakat.

Suddhanya Yupho, Analis Insight, Thailand

Thought BubbleSuddhanya-Thailand

Sampah plastik sudah menjadi pembicaraan utama di Thailand karena kebiasaan membuang sampah di pantai sudah terjadi selama bertahun-tahun. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pemerintah Thailand, masyarakat Thailand rata-rata menggunakan delapan kantong plastik dalam sehari, yang setara dengan 200 miliar dalam satu tahun. Selain itu, Thailand juga merupakan negara penyumbang sampah laut ke-enam terbesar di dunia, menurut data Ocean Conservacy.

Permasalahan ini mendorong pemerintah untuk bertindak dengan memprioritaskan agenda pengelolaan sampah. Meskipun demikian, masyarakat juga mengharapkan perusahaan memiliki peran aktif dalam mendorong penggunaan bahan alternatif yang berkelanjutan, dengan menganggap aksi terhadap masalah sampah plastik ini sebagai hal yang sangat penting di seluruh pasar seiring kesadaran akan dampak negatif plastik semakin besar.

Beberapa bulan lalu, platform jasa pengiriman makanan, Foodpanda, meluncurkan proses pemesanan baru di Thailand di mana pelanggan dapat memesan dari 100 restoran lebih dan dapat memasukkan pilihan untuk tidak memakai alat makan plastik.

Sampah plastik tidak akan hilang begitu saja, dan karena kesadaran akan permasalahan ini semakin tinggi, sudah seharusnya semua produsen yang memiliki permasalahan ini bergabung untuk mengatasinya bersama. Baik dengan mengurangi penggunaan plastik yang tidak perlu, tidak lagi menggunakan kemasan plastik, atau berinvestasi pada sistem pengelolaan sampah yang lebih mutakhir, produsen perlu mengambil langkah lebih maju untuk masa depan di mana opini masyarakat terhadap plastik mulai berubah.

Saat ini, perubahan yang positif sudah mulai dirasakan di Thailand sebagai negara yang menggunakan plastik secara berlebihan. Thailand telah menunjukkan bagaimana persepsi masyarakat dapat dipengaruhi terutama saat para produsen bersama-sama mengatasi permasalahan sampah plastik.

© 2020 Mintel Group Ltd. | Kebijakan Privasi | Penggunaan Cookie