Hotspot menyajikan observasi terbaik dari tim Mintel Tren mengenai produk dan jasa yang diluncurkan di seluruh dunia. Dari program yang dirancang untuk mengalihkan bungkus saus dari berakhir di tempat pembuangan sampah sampai ke brand air dalam kemasan baru yang bersumber dari kelembaban udara, temukan inisiatif global paling inovatif yang terjadi di bulan ini. 

Saucy Recycling – AS

Taco Bell bekerjasama dengan perusahaan pendaur ulang TerraCycle untuk memberikan solusi untuk proses daur ulang bungkus saos bekas. Program ini mendorong konsumen Taco Bell untuk membuat akun dengan TerraCycle, mengumpulkan bungkus saos bekas, lalu mencetak label pengiriman gratis dari TerraCycle untuk mengirim bungkus bekas tersebut untuk didaur ulang. Program ini dirancang agar bungkus bekas terhindar dari berakhir di tempat pembuangan. Bungkus saos tidak perlu dibersihkan secara menyeluruh untuk didaur ulang. 

Daur ulang adalah isu yang kompleks dan brand-brand sedang mencari cara baru untuk memproses produk yang sulit didaur ulang. Kendala dari penawaran ini adalah penempatan tanggung jawab yang begitu besar di sisi konsumen, dengan persyaratan untuk mengunduh aplikasi khusus dan mencetak label pengiriman untuk menyelesaikan proses. Saat brand memikirkan program daur ulang, mereka harus ikut memikirkan konsumen modern. Sekalipun ada lebih banyak konsumen yang bekerja jarak jauh, banyak dari mereka tidak memiliki printer. Data Mintel menyoroti fakta bahwa separuh dari pekerja jarak jauh AS memiliki printer dan angka ini turun ke kurang dari dua dari lima bagi konsumen berumur 18-34 tahun. Hal ini berarti mayoritas konsumen harus mencari printer untuk bisa berpartisipasi, yang membuat hal ini lebih sulit untuk dilakukan.

– Diana Kelter, Analis Tren Senior, AS

Dari Udara ke Gelas Anda – Chili

Sebuah brand minuman dalam kemasan, dipanen dari kelembaban udara, telah diperkenalkan pada pasar Chili. Dikemas dalam botol Tetra Pak, sumber air brand Awa adalah kelembaban yang terperangkap di udara. Baru saja diperkenalkan pada pasar Chili oleh Lader Energy, perusahaan yang berfokus pada proyek-proyek pengembangan energi terbarukan. Prosesnya menyatukan photovoltaic dan energi panas matahari dengan panel tenaga surya yang menangkap kelembaban atmosfer dengan cara kondensasi. Airnya kemudian dibersihkan, difilter dan mineralisasi sebelum dimasukan kedalam botol.  

Dengan terbuktinya perubahan iklim mempengaruhi lingkungan, konsumen menjadi lebih paham dan khawatir tentang isu keberlanjutan dari perspektif yang berbeda. Meskipun material sampah kemasan dan plastik mendapat perhatian utama dalam isu lingkungan, konsumen tetap berusaha untuk mencari cara lain untuk mengurangi dampak lingkungan. Sumber energi terbarukan menjadi lebih populer karenanya. Khawatir terhadap polusi, konsumen ingin diasosiasikan dengan brand-brand yang melakukan sesuatu untuk mengurangi emisinya. 

– Dana Macke, Direktur Tren, Benua Amerika

Jangan Sebut Itu Pemutih – Jepang

Brand kecantikan besar Jepang Kao baru saja mengumumkan bahwa mereka akan mengeliminasi istilah ‘bihaku’ (pemutih) dari semua produknya dalam beberapa tahun kedepan. Sebagai gantinya, brand kecantikan tersebut akan mulai mengadopsi frasa seperti ‘mencerahkan’ untuk tetap menjawab keinginan konsumen untuk mendapatkan corak kulit yang lebih cerah. Kao juga mendeklarasikan rencananya untuk meluncurkan sebuah lini produk foundation yang akan menawarkan lebih dari 20 rona yang berbeda untuk menjawab kebutuhan konsumen yang lebih luas.

Saat konsumen menjadi lebih sadar terhadap isu sosial, lebih banyak konsumen menganggap perusahaan dan brand bertanggung jawab untuk perilakunya. Diversitas adalah isu yang sangat sensitif di Jepang karena sejarah brand-brand yang mempromosikan standar kecantikan yang eropa-sentris. Bagaimanapun, bersamaan dengan naiknya ikon budaya yang birasial seperti Naomi Osaka, demografis Jepang tidak lagi homogen. Konsumen Gen Z yang semakin berkembang berasal dari ras campuran dan brand harus menjadi semakin inklusif dalam pesannya untuk mendukung demografis kontemporer Jepang yang semakin beragam.

Meskipun begitu, konsumen akan tetap menyukai produk dengan efek ‘pemutih’ untuk meminimalisir kulit berminyak dan bercak hitam. Maka dari itu, pilihan Kao untuk mengganti terminologi tertentu dengan kata-kata generik adalah langkah maju untuk menaikkan inklusivitas, sambil tetap menjadi relevan bagi kebutuhan konsumen. Meskipun ini adalah langkah kecil, dedikasi brand tersebut dapat memuluskan jalan bagi perusahaan Jepang lain untuk mulai mengadopsi nilai inklusivitas dan praktik keragaman melalui langkah-langkah yang mudah diraih. 

– Victoria Li, Analis Tren, Asia Pasifik

Pre-order dan Simpan – Norwegia

Brand pakaian Famme telah meluncurkan pakaian ‘made-to-order’ untuk menawarkan opsi yang lebih berkelanjutan bagi konsumen dan memudahkan mereka untuk mem-‘vote’ pakaian-pakaian yang mereka inginkan untuk dibuat. Pada situs web brand, konsumen dapat melakukan reservasi dan mem-’vote’ pakaian yang mereka inginkan dan Famme akan memproduksi pakaian tersebut berdasarkan reservasi tersebut. Hal ini membantu brand untuk memproduksi hanya pakaian yang konsumen inginkan, mengurangi penggunaan sumber daya yang sia-sia. Dengan cara reservasi sebelum produk memiliki stok, konsumen mendapatkan biaya pengiriman gratis dan potongan harga paling sedikit 50% dari harga utuhnya. 

Tren Fast Fashion seringkali dikritik karena mendorong konsumsi berlebih yang berdampak terbuangnya sumber daya dan berkontribusi pada polusi dan perubahan iklim. Produk yang diproduksi massal dan tidak terjual seringkali berakhir di pembuangan, dan kita juga sering melihat brand menghadapi reaksi negatif karena menghancurkan atau membuang pakaian yang tak terjual. Dengan seruan bagi industri pakaian untuk mengadopsi praktik yang lebih sadar lingkungan, pakaian made-to-order menghadirkan satu pilihan. Hal ini dapat memudahkan brand untuk menghemat sumber daya dan mengurangi limbah, sambil memudahkan konsumen untuk memberi pendapat dalam proses kreasi produk.

– Liisa Kontas, Analis Tren, Nordik

Membangun sebuah Kota Hijau – Filipina

South Coast City adalah pengembangan tepi sungai yang akan menjadi titik pertemuan antara kesenangan dan perdagangan, termasuk di dalamnya kombinasi seimbang antara bangunan tinggi dan penghijauan. Sorot utama dari lokasi ini adalah ruang hijau terbuka yang termasuk taman seluas satu hektar, sebuah pusat konvensi, titik akses yang mudah dan opsi transit. Selain itu, pembangunan yang baru juga termasuk sebuah sistem jalur pejalan kaki sebesar 4,000m² yang mengarah pada pusat komersial. Visinya adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan menghasilkan kesempatan bekerja yang besar bagi rakyat Filipina.

Terpaksa untuk meluangkan waktu di rumah sejak awal pandemi, banyak orang merasa tertekan, terisolasi dan sendiri. Gabungan antara penghijauan dan sistem yang ramah pejalan kaki di distrik komersial menghasilkan momen yang lebih baik bagi penghuni kota untuk menikmati keuntungan dari berkegiatan di luar rumah. Berada di sekitar alam juga dipercaya dapat meningkatkan kesehatan mental dan sebuah infrastruktur yang memudahkan untuk berjalan kaki dan bersepeda akan membantu kesehatan fisik dan mental sambil meminimalisir emisi karbon.

– Melanie Nambiar, Analis Tren, Asia Tenggara

© 2022 Mintel Group Ltd. | Kebijakan Privasi | Penggunaan Cookie