Perusahaan-perusahaan di dunia telah bertekad untuk saling bahu-membahu dalam mengatasi jumlah limbah makanan yang semakin meningkat, seperti yang disebutkan dalam artikel dengan judul Mintel 2017 Global Food and Drink Trend “Waste Not” (Mintel Trend Makanan dan Minuman Global tahun 2017 “Jangan Mubazir”). Dengan semakin banyak jumlah usaha ritel, restoran dan badan-badan sosial yang bekerja keras dalam menekan jumlah limbah makanan dan minuman, perilaku konsumen juga perlahan telah berubah.

Dalam artikel ini, Mintel akan membahas masalah limbah makanan di RRC, Australia dan Singapura serta melihat dampak yang dihasilkan bagi perusahaan dan dunia bisnis.

CHINA Joyce Lam

JOYCE LAM, TRENDS ANALYST, APAC

Menurut tradisi budaya Cina, tuan rumah harus menjamu tamu dengan menghidangkan berbagai macam jenis makanan untuk menunjukkan penghormatan kepada tamu dan agar tidak kehilangan “muka”. Kebiasaan ini mengakibatkan tingginya limbah makanan; Menurut penelitian yang dilakukan oleh Institute of Geographic Sciences and Natural Resources Research (Institut Ilmu Geografi dan Sumber Daya Alam) pada tahun 2016, diperkirakan industri makanan RRC menghasilkan sebanyak lebih kurang 17-18 juta ton makanan per tahun, cukup untuk memberi makan 30–50 juta orang.

Tingginya angka tersebut sangat mengkhawatirkan pemerintah RRC dan juga badan-badan internasional lainnya. Pada tahun 2013, pemerintah Cina meluncurkan gerakan “Clean Your Plate” (Bersihkan piringmu) di seluruh negeri untuk mendorong para konsumen agar tidak memesan makanan berlebihan saat bersantap di restoran, dan jika ada makanan berlebih, konsumen dianjurkan untuk membawa pulang makanan tersebut. Gerakan tersebut sangat terkait erat dengan Mintel Trend “Hungry Planet” (Tren Mintel “Planet Lapar”), dan berpotensi besar menangani masalah kelangkaan makanan di negara dengan jumlah penduduk yang terus meningkat ini dan sumber daya alam yang semakin terbatas.

Di Cina sendiri, dimana ide tanggung jawab pribadi tidak semaju di negara-negara Barat, usaha pemerintah telah menunjukkan hasil yang cukup berarti; masyarakat saat ini mulai memiliki kesadaran yang lebih tinggi, khususnya pada masyarakat berpenghasilan tinggi untuk menuntut dunia bisnis agar lebih memperhatikan nilai-nilai etika dalam tindakannya. Penelitian Mintel yang tertuang dalam laporan Marketing to Mintropolitans China 2017 (Pemasaran ke Mintropolitan Cina 2017) menunjukkan bahwa lebih dari setengah responden setuju perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika harus menunjukkan usaha mengurangi limbah.

Perusahaan dan merek yang secara aktif memperjuangkan konsep kesinambungan akan mendapatkan penghargaan dan pengakuan dari konsumen. Sebuah restoran baru-baru ini meluncurkan program “sharing fridge” (berbagi kulkas) yang menyediakan makanan berlebih bagi masyarakat yang membutuhkan; dan beberapa restoran lain menerapkan gerakan mengumpulkan bahan-bahan makanan sisa untuk diolah menjadi pizza dan disumbangkan. Gerakan lain adalah menyajikan makanan dalam porsi yang berbeda atau bahkan menghukum pelanggan yang membuang makanan.

AUSTRALIA Davina Patel

DAVINA PATEL, GLOBAL FOOD AND DRINK TRENDS ANALYST

Masyarakat Australia juga telah semakin sadar akan banyaknya makanan yang terbuang. Sebagai bentuk kesadaran tersebut, beberapa anggota masyarakat telah meluncurkan gerakan-gerakan yang bertujuan melestarikan lingkungan dunia.

Baru-baru ini, Fresh Produce Alliance menjadi perusahaan pertama di Australia yang meluncurkan aneka makanan bayi, Born Pure, yang dibuat dengan menggunakan proses tekanan tinggi. Born Pure bertujuan menjawab kebutuhan masyarakat akan makanan yang sehat, lezat dan bergizi. Selain itu, Born Pure juga bertujuan membantu para petani Australia dengan memanfaatkan semua hasil panen mereka dan dengan demikian mengurangi jumlah buah-buahan dan sayur-sayuran yang tidak dapat dijual sebab tidak memenuhi persyaratan pasar bahan makanan segar.

Merek inovatif seperti Born Pure yang menggunakan bahan-bahan dengan kualitas atau grade lebih rendah tetapi tetap menghasilkan produk jadi yang segar dan bergizi, telah menunjukkan komitmennya untuk mengurangi jumlah makanan yang terbuang. Beberapa bisnis ritel juga telah mulai meluncurkan gerakan untuk mengatasi hal ini. Sebagai contoh, Woolworths telah mengumumkan tekadnya untuk tidak lagi memproduksi limbah makanan pada tahun 2020, dan akan bekerja sama dengan badan pelestarian makanan Austaralia, yaitu OZ Harvest. Melalui kemitraan ini, makanan berlebih akan dikumpulkan dan disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan di seluruh Australia.

Melihat ke depan, perusahaan dengan solusi inovatif dalam menangani makanan berlebih memiliki daya tarik lebih tinggi bagi konsumen yang perduli dengan lingkungan melalui tindakan nyata.

SINGAPORE Delon Wang

DELON WANG, MANAGER OF TRENDS, APAC

Limbah makanan adalah permasalahan yang telah menghantui pikiran para konsumen, perusahaan dan badan-badan pemerintah. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup Singapura (National Environment Agency – NEA), walau limbah makanan mencakup 10% dari limbah keseluruhan Singapura, hanya 13% dari limbah makanan tersebut yang dapat didaur ulang. Terlebih lagi, jumlah limbah makanan dilaporkan meningkat sebanyak 50% dalam sepuluh tahun terakhir. Dengan jumlah penduduk Singapura dan aktivitas perekonomian yang meningkat, jumlah limbah makanan Singapura diperkirakan akan terus meningkat.

Kita telah melihat beberapa gerakan inovatif yang diluncurkan untuk menangani hal ini. Tahun lalu, Singapura juga meluncurkan 11th Hour, sebuah aplikasi ponsel yang bertujuan mengurangi limbah makanan dengan menampilkan penawaran-penawaran makanan yang bisa diperoleh pada tempat-tempat yang tidak jauh dari lokasi pengguna. Awal tahun ini, NEA juga meluncurkan program dua tahun “Love Your Food @ Schools Project”. Sebagai bagian dari program ini, 10 SD dan SMP akan dilengkapi dengan mesin penghancur limbah makanan yang mengubah limbah makanan menjadi pupuk kompos. Gerakan ini bertujuan mendorong para generasi muda untuk lebih menghargai makanan dan mengurangi jumlah makanan terbuang.

Inisiatif seperti ini merupakan kesempatan bagi perusahaan dan merek untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan tetap mengembangkan masyakarat sekitar. Perusahaan-perusahaan sebaiknya melirik cara-cara baru untuk turut serta mendukung gerakan-gerakan masyarakat. Sumbangan sosial ini akan memberikan nama yang baik bagi perusahaan di mata konsumen, yang akan tetap setia membeli produk perusahaan.

© 2020 Mintel Group Ltd. | Kebijakan Privasi | Penggunaan Cookie